Kamis, 16 April 2015

RISET KEPERAWATAN

KERANGKA KONSEP, KERANGKA TEORI, DEFINISI
OPERASIONAL DAN JENIS-JENIS VARIABEL PENELITIAN

A.    Kerangka Konsep
1.   Pengertian
Kerangka konsep merupakan bagian penelitian yang menyajikan konsep atau teori dalam bentuk kerangka konsep penelitian. Pembuatan konsep ini mengacu pada masalah-masalah (bagian-bagian) yang akan diteliti atau berhubungan dengan penelitian dan dibuat dalam bentuk diagram (A. Aziz Alimul H. 2007)
Kerangka konseptual penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang akan diteliti. Kerangka konsep ini gunanya untuk menghubungkan atau menjelaskan secara panjang lebar suatu topic yang akan dibahas. Kerangka ini didapatkan dari konsep ilmu/teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang didapatkan dibab tinjauan pustaka atau kalau boleh dikatakan oleh penulis merupkan ringkasan dari tinjauan pustaka yang dihubungkan dengan garis sesuai variable yang diteliti.
Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi ddari hal-hal khusus. Oleh karena konsep merupakn abstraksi, maka konsep tidak dapat langsung diamati atau diukur. Konsep hanya dapat diamati atau diukur melalui konstruksi atau yang lebih dikenal dengan nama variable. Jadi variable adlah symbol atau lambing yang menunjukan nilai atau bilangan dari konsep.
Contoh :
Sehat adalah konsep, istilah ini mengungkap sejumlah observasi tentang hal-hal atau gejala-gejala yang mencerminkan kerangka keragaman kondisi seseorang. Untuk mengetahui apakah seseorang itu sehat atau tidak maka pengukuran konsep sehat tersebut harus melalui kontruksi atau variable-variabel, misalnya : tekanan darah, denyut nadi, Hb drarah, dan sebaginya. Tekanan darah, denyut nadi, Hb drarah, dan sebaginya ini adalah variable-variabel yang akan digunakan untuk mengobservasi atau mengukur apakah seseorang itu sehat atau sakit.

       2.   Tahap penyusunan kerangka konseptual
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian. Untuk itu langkah-langkah yang dilakukan sebelum membuat kerangka konseptual ini adalah :
a. Seleksi dan definisi konsep
b. Mengembangkan pernyataan hubungan.
c. Mengembangkan konsep dalam gambar/kerangka, meliputi :
1)      Disesuaikan dengan pernyataan masalah.
2)      Arah kerangka sesuaikan dengan variable yang akan diteliti dengan mengembangkan konsep dalam gambar/kerangka dengan membuat garis mana yang diteliti dan tidak dengan menggunakan garis sambung atau terputus, serta buat panah untuk bagian yang ada pengaruhnya dan tidak untuk bagian yang tidak ada pengaruh.
3)      Identifikasi dan analisa teori yang diaplikasikan.
Contoh :
                        : Diteliti
                        : Tidak diteliti
                        : Berhubungan
                        : Berpengaruh
                        : Sebab akibat
                        : Perbandingan

B.     Kerangka Teori
Kerangka teoritis adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktorfaktor penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Arti teori adalah sebuah kumpulan proposisi umum yang saling berkaitan dan digunakan untuk menjelaskan hubungan yang timbul antara beberapa variabel yang diobservasi.
Penyusunan teori merupakan tujuan utama dari ilmu karena teori merupakan alat untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena yang diteliti. Teori selalu berdasarkan fakta, didukung oleh dalil dan proposisi. Secara defenitif, teori harus berlandaskan fakta empiris karena tuijuan utamanya adalah menjelaskan dan memprediksikan kenyataan atau realitas. Suatu penelitian dengan dasar teori yang baik akan membantu mengarahkan si peneliti dalam upaya menjelaskan fenomena yang diteliti.
Proposisi adalah pernyataan yang berkaitan dengan hubungan antara konsepkonsep yang ada dan pernyataan dari hubungan universal antara kejadiankejadian yang memiliki karakteristik tertentu. Pembentukan teori adalah sebuah peningkatan abstraksi.
Mark membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:
  1. Teori yang deduktif: memberi keterangan yang di mulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
  2.  Teori yang induktif: cara menerangkan adalah dari data ke arah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum behaviorist.
  3. Teori yang fungsional: di sini nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.

Berdasarkan tiga pandangan ini dapatlah disimpulkan bahwa teori dapat dipandang sebagai berikut:
  1. Teori menunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. Hukum-hukum ini biasanya sifat hubungan yang deduktif.
  2. Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu. Di sini orang mulai dari data yang diperoleh dan dari data yang diperoleh itu datang suatu konsep yang teoritis (induktif).
  3. Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi. Di sini biasanya terdapat hubungan yang fungsional antara data dan pendapat yang teoretis.

Kerangka teoritis adalah pondasi utama dimana sepenuhnya proyek penelitian itu ditujukan. Hal ini merupakan jaringan hubungan antar variabel yang secara logis diterangkan, dikembangkan dan dielaborasi dari perumusan masalah yang telah diidentifikasi melalui wawancara, observasi, dan survei literature. Hubungan antar survei literature dan kerangka teoritis adalah survei literature meletakkan pondasi yang kuat untuk membangun kerangka teoritis. Ada lima hal yang harus dipenuhi dalam membangun kerangka teoritis:
  1. Variabel yang relevan harus dapat dijelaskan dan disebutkan dalam diskusi.
  2. Diskusi haruslah dapat mewujudkan bagaimana dua atau lebih variabel itu berhubungan satu sama lain.
  3. Jika jenis dan arah hubungan tadi dapat diterima secara teori berdasarkan atas penelitian sbelumnya, maka harus ada indikasi pada diskusi apakah hubungan tadi bersifat positip atau negativ
  4.  Harus ada penjelasan secara jelas kenapa kita akan mengharapkan hubungan tersebut terus bertahan.
  5. Skema diagram yang menjelaskan kerangka teoritis harus dapat diperlihatkan sehingga pembaca dapat melihat dengan mudah dan memahami bagaimana hubungan antar variabel secara teoritis.

Dalam landasan teori perlu dikemukakan kerangka teori dan kerangka berpikir, sehingga selanjutnya dapat dirumuskan hipotesis dan instrumen penelitian. Kerangka teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan hanya sekedar pendapat pakar atau  penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Kerangka teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan, dan prediksi terhadap hubungan antarvariabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah. Langkah-langkah menyusun kerangka teori adalah sebagai berikut :
  1. Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya.
  2. Cari sumber-sumber bacaan (buku, kamus, ensiklopedi, jurnal ilmiah, laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti.
  3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti. (untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian, lihat judul penelitian, permasalahan, teori yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, tekhnik pengumpulan data, analisis, kesimpulan dan sarana yang diberikan).
  4. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, dibandingkan anatara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
  5. Baca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang di baca.
  6. Deskripsikan teori-teori yang telah di baca dari berbagai sumber kedalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.

     Hasil kajian pustaka adalah dukungan teori (apa yang dikenal dengan “kerangka teori” dan “kerangka berpikir”. Kerangka teori adalah bagian dari penelitian, tempat bagi peneliti memberikan penjelasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan variabel pokok, sub variabel atau pokok masalah yang ada dalam penelitiannya.
Langkah-langkah yang harus dilakukan peneliti dalam membuat kerangka teori pada judul di atas adalah:
  1. Menjelaskan tentang pengalaman guru yang dimaksud dalam penelitian ini, apakah pengalaman yang ditunjukkan oleh hanya banyaknya tahun yang telah dilalui selama mereka bekerja sebagai guru, ataukah juga pengalaman dalam memegang mata pelajaran atau kelas tertentu.
  2. Menjelaskan batasan tentang “kualitas pengelolaan kelas” yang harus ditegaskan dengan jelas yaitu pengelolaan kelas secara umum, bukan pengelolaan kelas untuk pengajaran sesuatu bidang studi.
  3.  Menjelaskan tentang teori hubungan antara pengalaman mengajar guru dengan kualitas pengelolaan kelas, meliputi: faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap kualitas pengelolaan kelas, bagaimana peranan guru dalam meningkatkan kualitas pengelolaan kelas, faktor-faktor apa saja dalam diri guru yang diperkirakan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pengelolaan kelas.

Agar bagian kerangka teori dapat baik sesuai dengan ketentuan, (calon) peneliti dapat menggunakan pedoman sebagai berikut:
  1. yang ada dalam permasalahan penelitiannya. Yang dimaksud dengan “lengkap” adalah bahwa semua konsep yang tercakup dalam permasalahan atau judul penelitian diberi dukungan teori.
  2.  Kerangka teori bukan hanya langsung memberikan penjelasan tentang variabel yang dimaksud, tetapi mulai dari beberapa penjelasan umum kemudian mengarah pada alternatif yang dimaksudkan
  3. Kerangka teori tidak selalu hanya dicari dari sumber yang menyangkut bidang yang diterangkan tetapi dapat diambil dari bidang-bidang lain yang relevan.
  4. Hendaknya diusahakan agar sumber kajian pustaka bukan hanya yang berbahasa Indonesia saja tetapi juga buku-buku yang berbahasa asing, agar informasi yang didapat adalah yang “up to date”.
  5. Hendaknya diusahakan agar terdapat imbangan yang serasi antara jumlah kutipan yang bersifat teori dengan kutipan yang bersifat analitis.


C.    Definisi Operasional
Definisi operasional mendefinisikan variable secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati ketika melakukan pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena dengan menggunakan parameter yang jelas (A. Aziz Alimul H. 2007)
Variable-variabel penelitian sebenarnya merupakan kumpulan konsep mengenai fenomena yang diteliti. Pada umumnya, karena merumuskan variable itu masih bersifat konseptual, maka maknanya masih sangat abstrak walaupun mungkin secara intuitif sudah daapat dipahami maksudnya. Dalam pelaksanaan penelitian, batasan atau definisi suatu variable tidak dapat dibiarkan ambiguous, yakni memiliki makna ganda, atau tidak menunjukkan indicator yang jelas. Hal itu disebabkan data mengenai variable yang bersangkutan akan diambil lewat suatu prosedur pengukuran sedangkan pengukuran yang valid hanya dapat dilakukan terhadap atribut yang sudah didefinisikan secara tegas dan operasional. Variable yang masih berupa konsep teoritis, belum dapat diukur. (Dr. Saifudin Anwar. 2010)
Bayangkan suatu konsep yang sudah sangat kita kenal, misalkan “miskin”. Setiap orang boleh dikatakan  mengetahui dengan baik apa yang dimaksudkan dengan keadaan miskin dalam komunikasi sehari-hari. Seseorang yang mengatakan bahwa si A adalah miskin langsung dapat kita pahami maksudnya, begitu pula orang yang mengatakan bahwa si B tidak miskin. Masalahnya jadi lain apbila kemudian konsep “miskin” tersebut kita bawa kedalam penelitian ilmiah. Sewaktu kita akan meletakkan seseorang, kedalam kategori miskin tentu kita tidak dapat mengikuti saja pengakuannya atau perkiraan kita saja. Kita tidak dapat mengatakan seseorang itu miskin hanya karena melihat ia berpakain murah, karena pakaian murah dapat saja menjadi indicator kesederhanaan. Kita juga tidak dapat mengatakan bahwa seseorang itu miskin dengan mengetahui bahwa ia hanya membeli makanan yang murah karena membeli makan yang murah mungkin saja tanda bahwa ia seorang yang hemat tau seorang yang kikir. Kalaupun kita mengetahui berapa banyak harta yang dimiliki oleh seseorang maka konsep miskin (dan lawannya, yaitu tidak miskin) tidak langsung dapat diterapkan pada kondisi orang tersebut. Mengapa ? Karena miskin itu relative dan tergantung pada norma dan kriteria mana yng digunakan.
Penelitian ilmiah tentu tidak dapat didasarkan pada konsep yang bermakna ganda, yang terbuka pada penafsiran subyektif setiap orang. Sifat ilmiah menuntut pengertian objektif yang paling tidak harus merupakan kesepakatan bersama mengenai makna sesuatu.
Pada saat itulah kita memerlukan suatu definisi yang memiliki arti tunggal dan diterima secara obyektif bilaman indicator variable yang bersangkutan tersebut tampak, yang dinamakn definisi operasioanal. Definisi operasional adalah suatu definisi mengenai variable yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variable tersebut yang dapat diamati. Proses pengubahan definisi konseptual yang lebih menekankan kriteria hipotetik menjadi definisi operasional disebut dengan operasionalisasi variable penelitian.
Banyak cara untuk merumuskan definisi operasional :
1.      Definisi operasional dapat dirumuskan berdasarkan proses apa yang harus dilakukan agar variable yang didefinisikan itu terjadi. Sebagai contoh, variabel “Kecemasan” dapat dioperasionalkan sebagai suatu keadaan akibat subjek dihadapkan pada ancaman keselamatan.
Karen terbentuknya definisi operasional tergantung pada manipulasi atau proses yang menyebabkan timbulnya variable yang bersangkutan maka cara definisi tipe ini sangat cocok untuk mengoperasionalkan variable bebas.
2.      Definisi operasional dibuat berdasarkan bagaimana cara kerja variable yang bersangkutan, yaitu apa yang terjadi sifat dinamiknya. Sebagai contoh, konsep mengenai orang yang “cerdas” dioperassionalkan sebgai orang yang “berhasil menjawab lebih dari 75% soal pada suatu tes kemampuan umum”.
Dikarenakan cara pendefinisian variable didasarkan pada sifat dinamis yang ada pada subjeknya, maka cara operasionalisasi seperti ini sangat cocok untuk mendefinisikan variable tergantung.
3.      Definisi operasional dibuat berdasarkan kriteria pengukuran yang diterapkan pada variable yang didefinikan. Dalam hal ini angka atau skor pada alat ukur dianggap representasi dari konsep mengenai variable yang diukur. Sebagai contoh, variable “Kecerdasan” yang secara konseptual memiliki banyak sekali definisi dapat dioperasionalkan sebagai IQ pada skala WAIS, atau dioperasionalkan sebagai angka yang diperoleh pada tes SPM.

D.    Jenis-jenis Variabel Penelitian
Istilah “variable” merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap jenis penelitian, F.N. Kerlinger menyebut variable sebagai sebuah konsep seperti halnya laki-laki dalam konsep jenis kelamin, insaf dalam konsep keasadaran.
Sutrisno Hadi mendefinisikan variable sebagai gejala yang bervariasi misalnya jenis kelamin, karenajenis kelamin mempunyai variasi : laki-laki – perempuan , berat badan, karena ada berat 40 kg, dan sebagainya. Gejala adalah objek penelitian, sehingga variable adalah objek penelitian yang bervariasi.
Identifikasi variable merupakan bagian penelitian dengan cara menentukan variable-variabel yang ada dalam penelitian seperti variable independen, dependen, moderator, control dan intervening. Jenis variable penelitian keperawatan yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
1.      Variable Independen (Variabel Bebas)
Variable independen ini merupakan variable yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variable dependen (terikat). Variable ini juga dikenal dengan nama variable bebas artinya bebas dalam memengaruhi variable, variable ini punya nama lain seperti variable predictor, risiko, atau kausal.
2.      Variable Dependen
Variable dependen ini merupakan variable yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variable bebas. Variable ini tergantung dari variable bebas terhadap perubahan.
3.      Variable Moderator
Variable moderator ini merupakan variable yang memperkuat atau memperlemah hubungan variable independen dan depeden yang memengaruhi kedua vaiabel tersebut.

4.      Variable Kontrol
Variabel control ini merupakan variable yang dibuat konstan sehingga tidak akan memengaruhi variable utama yang diteliti. Variable control ini ditentukan oleh peneliti sehingga dapat melakukan penelitian perbandingan antara kelompok perlakuan dan kelompok control dalam penelitian.
5.      Variable Intervening
Variable intervening ini merupakan variable yang memperkuat atau memperlemah variable dependen dan independen tetapi tidak dapat diukur.


DAFTAR PUSTAKA


Anwar, Dr. Saifuddin MA. 2010. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah.Jakarta : Salemba Medika
Nursalam. 2009. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika
Setiadi. 2007. Konsep & Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu
Syaodih, Nana. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar